Sabtu, 28 Februari 2009

AKHLAK MUSLIM KEPADA ALLAH

AKHLAK MUSLIM KEPADA ALLAH

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
Matakuliah : Akhlak Dan Pembelajarannya
Dosen Pengampu : Dr. H. Sumedi M.Ag












Disusun Oleh :
Agung Prayoga (06410092-05)




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2009
PENDAHULUAN

Secara etimologi (lughotan) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budipekerti, perangai, tingkahlaku, atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khaliq (penciptaan).
Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khalik (tuhan) dengan perilaku makhluk (manusia). Atau dengan kata lain, tataperilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlaq yang hakiki. Manakala tindakan atau perilaku tersebut di dasarkan kepada kehendak khaliq (tuhan). Dari pengertian etimologi seperti ini, akhlaq bukan saja tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesama manusia, tapi juga norma yang mengatur hubungan antar sesama manusia dengan tuha dan bahkan dengan atau semesta sekalipun.
Secara terminologi akhlalak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara sepontan bila mana diperlukan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu.[1]













PEMBAHASAN

Akhlak muslim terhadap Allah adalah sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada tuhan sebagai khalik
Sekurang kurangnya ada 4 alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah. Pertama, karena Allah-lah yang telah menciptakan manusia. Dia menciptakan manusia dari air yang ditulmpahkan keluar dari antara tulang punggung dan tulang rusuk (lihat QS. Al-Thariq, 86:5-7). Dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang kemudian diproses menjadi benih yang kemudian disimpan dalam tempat yang kokoh ( rahim), setelah ia menjadi segumpal darah, segumpal daging, dijadikan tulang dan dibalut dengan daging, dan selanjutnya diberi roh. (liat QS. Al-Mu’minun, ayat 12-13). Dengan demikian sebagai yang diciptakan sudah sepantasnya berterimakasih kepada yang menciptakannya. Kedua karena Allah yang telah memberikan perlengkapan, panca indra berupa pendengaran, pengliharan, akal pikiran, dan hati sanubari di samping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. (liat QS. Al-Nahl,ayat 78). Ketiga karena Allah-lah yang menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan sebagainya. Keempat Allah yang memulyakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.[2] Namun demikian sungguhpun Allah telah memberikan berbagai kenikmatan kepada manusia sebagaimana disebutkan di atas bukanlah menjadi alasan Allah perlu dihormati. Bagi Allah dihormati atau tidak, tidak akan mengurangi kemulyaan-Nya. Akan tetapi sebagaimana manusia sudah sewajarnya menunjukan sikap akhlak yang pas kepada Allah.
Pada hakikatnya pembentukan akhlak islami sama dengan tujuan pendidikan. Menurut Ahmad D. Marimba tujuan utama pendidikan islam adalah membentuk manusia yang percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT . Selain itu juga Mohd Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam[3]
Macam-macam akhlak muslim terhadap Allah yaitu
Takwa
takwa adalah mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Bila ajaran Islam dibagi menjadi iman, Islam, dan Ihsan maka pada hakikatnya takwa adalah integralisasi demensi tersebut. Hakikat takwa adalah memadukan secara integral aspek iman, Islam, dan Ihsan dalam diri seseorang. Dengan demikian orang yang bertakwa adalah orang yang dalam waktu bersamaan menjadi mukmin, muslim, dan muhsin.
Seseorang yang bertakwa kepada Allah SWT akan dapat memetik buahnya, baik di dunia dan di akhirat. Buah itu atara lain : (1) mendapatkan sikap furqon, yaitu sikap tegas membedakan antara yang baik dan batil, benar dan salah, halal dan haram, terpuji dan tercela (2) mendapatkan limpahan berkah dari langit dan bumi, firman Allah surat Al A’raf ayat 96, yang artinya : jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka dikarenakan perbuatannya (3) mendapatkan rizki tanpa diduga-duga (4) mendapatkan kemudahan dalam urusannya (5) mendapatkan jalan keluar dari kesulitan (6) mendapatkan penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar
Cinta dan Ridha
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya, kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
Cinta denga pengertian demikian sudah merupakan fitrah yang dimiliki setiap orang. Islam tidak hanya mengakui keberadaan cinta itu pada diri manusia tetapi juga mengaturnya sehingga terwujud dengan mulia. Bagi seorang mu’min, cinta, pertama, dan utama sekali diberikan kepada Allah.
Sejalan denga cinta seorang muslim haruslah bersikap ridha denga segala aturan dan keputusan Allah SWT. Artinya dia harus dapat menerima sepenuh hati tanpa penolakan sedikitpun, segala sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya
Ikhlas
Ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih; hanya semata mata mengharapkan ridha Allah SWT.
Tiga unsur keikhlasan yaitu (1) niat yang ikhlas, dalam Islam faktor niat sangat penting. Apa saja yang dilakukan oleh seorang muslim haruslah berdasarkan niat mencari ridha Allah SWT, bukan berdasarkan motivasi lain. Hadis nabi yang diriwatkan oleh Bukhari Muslim yang artinya ”sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya ialah ke arah yang ditujunya itu. (2) beramal dengan sebaik-baiknya, niat yang ikhlas harus diikuti dengan amal yang sebaik-baiknya. Seorang Muslim yang mengaku ikhlas melakukan sesuatu harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan itu sebaik-baiknya. (3) pemanfaatan hasil usaha dengan tepat, unsur ketiga dari keihlasan menyangkut pemanfaatan hasil yang diperoleh. Misalnya menuntut ilmu. Setelah seorang Muslim melalui dua tahap keikhlasan yaitu niat ikhlas karena Allah SWT dan belajar dengan rajin, tekun dan disiplin, maka setelah berhasil mendapatkan ilmu itu, yang ditandai dengan keberhasilan meraih gelar kesarjanaan, bagaimana dia memanfaatkan ilmunya atau kesarjanaannya dengan tepat. Apakah dia memanfaatkan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya sendiri(sekedar cari uang dan kedudukan atau bersenang-senang secara materi) atau dia manfaatkan juga untuk kepentingan Islam dan umat Islalm secara khusus dan kepentingan umat manusia secara umum? Apakah dia manfaatkan ilmunya pada jalan yang halal atau yang haram? Semuanya itu menentukan keikhlasannya.
Keutamaan ikhlas, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepadaNya dengan penuh keikhlasan dan beramal semata-mata mengharapkan ridha-Nya. Allah berfirman dalam surat al bayyinah ayat 5








Artinya : ” Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Dan surat al An’am ayat 162



Artinya : “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Khauf dan raja’
Khauf dan raja’ atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap muslim. Bila salah satu dominan dari yang lainnya akan melahirkan pribadi yang tidak seimbang. Dominasi khauf akan menyebabkan sikap pesimisme dan putus asa, sedangkan dominasi raja’ menyebabkan seseorang lalai dan lupa diri serta merasa aman dari azab Allah. Yang pertama adalah sikap orang kafir dan yang kedua adalah sikap orang-orang yang merugi. Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf ayat 87



Artinya : Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."
Dan surat Al-A’raf ayat 99




Artinya : Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.



Tawakal
Tawakal adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan segala keputusan segala keputusan segala sesuatunya kepada-Nya.
Seorang muslim hanya boleh bertawakal kepada Allah semata-mata. Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 123


Artinya : Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Syukur
Syukur ialah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukurnya seorang hamba berkisar atas 3 hal yang apabila ketiganya tidak berkumpul, maka tidaklah dinamakan bersyukur, yaitu mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah.
Muraqabah
Muraqabah adalah kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu dalam pengawasan Allah SWT.
Taubat
Orang yang bertaubat kepada Allah SWT adalah orang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridhai-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling yang menyenangkan, kembali kepada Allah setelah meninggalkan-Nya, dan kembali taat setelah menentang-Nya.
Sepuluh ahlak muslim yaitu : (1) tidak menyakiti orang lain (2) menyingkirkan benda menyakitkan dari jalan (3) malu (4) santun (5) tinggalkan perdebatan (6) jangan berbohong ( 7) jangan bakhil atau pelit ( 8) tepiskan lah rasa dengki (9) dilarang iri (10) pantang terpedaya.[4]















KESIMPULAN

Akhlak muslim terhadap Allah adalah sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada tuhan sebagai khalik
Pada hakikatnya pembentukan akhlak islami sama dengan tujuan pendidikan. Menurut Ahmad D. Marimba tujuan utama pendidikan islam adalah membentuk manusia yang percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT . Selain itu juga Mohd Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam
Macam-macam akhlak muslim terhadap Allah yaitu
takwa
Cinta dan ridha
Ikhlas
Khauf dan raja’
Tawakal
Syukur
Muraqabah
Taubat













DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Dr. H. Yunahar, Kuliah Akhlak (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Ofset, 2007), hal 1-2
2. Nata, Prof. Dr. H. Abuddin, M.A., Akhlak Tasawuf,(Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003) hal : 149
3. Dr. M. Sholihin M.Ag, dkk, Akhlak Tasawu, Manusia, Etika, Dan Makna Hidup, (Bandung : Penerbit Nuansa,2004) hal : 98
4. www. Google.com. jam 9



[1] Ilyas, Dr. H. Yunahar, Kuliah Akhlak (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Ofset, 2007), hal 1-2
[2] Nata, Prof. Dr. H. Abuddin, M.A., Akhlak Tasawuf,(Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003) hal : 149
[3] Dr. M. Sholihin M.Ag, dkk, Akhlak Tasawu, Manusia, Etika, Dan Makna Hidup, (Bandung : Penerbit Nuansa,2004) hal : 98

[4] www. Google.com. jm 9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar